header image

Baru saja membaca buku Sang Pemimpi karya Andrea Hirata yang merupakan bagian dari tetralogi Laskar Pelangi.

Edensor juga sudah kubaca, Maryamah Karpov baru separuh… eh… diambil sama yang punya… Sadis!

# gak modal banget sih si iqbal!
# yang penting kan bukan hak milik, tapi hak pakai :P

under: Uncategorized

Network Marketing

Posted by: masiqbal | December 19, 2008 | 4 Comments |

Sering kali orang bertanya kepada saya tentang Network Marketing. Mulai dari aspek hukumnya menurut islam, prospek dan model bisnisnya, hingga yang hanya berpura-pura bertanya dengan tujuan utama merekrut saya. He he he. Melalui tulisan ini saya mencoba mengutarakan pandangan saya tentang Network Marketing seobyektif mungkin, berdasarkan pengalaman saya sendiri yang pernah mengikuti program-program seperti itu serta kisah-kisah yang saya dengar dari orang lain.

DEFINISI NETWORK MARKETING

Dalam sebuah organisasi, terutama yang berorientasi profit, pemasaran merupakan ujung dari value chain yang langsung bersentuhan dengan konsumen. Karena pemasaran hanyalah salah satu mata rantai, maka ia tidak ia tidak bisa berdiri sendiri. Dengan kata lain, pemasar bukanlah segalanya. Saya sering mendapati orang yg berlebihan dalam memandang dirinya sebagai anggota Network Marketing.

Namun tak bisa dipungkiri, pemasaran merupakan wajah dan ujung tombak dari sebuah organisasi. Maka tak heran, jika perusahaan melakukan berbagai upaya untuk mempercantik diri dan melakukan berbagai inovasi agar punya kekuatan untuk menembus pasar.

Salah satu upaya tersebut adalah dengan implementasi Network Marketing. Kalau ditilik dari arti katanya, sebenarnya Network Marketing bukan hanya Multi Level Marketing (MLM) atau Viral Marketing (VM) saja. Pada dasarnya hampir semua pemasaran berada dalam jejaring (networked). Perusahaan punya jaringan distributor, agen, dan pengecer. Perusahaaan asuransi banyak yang mengalokasikan bonus kepada marketernya jika dia bisa menarik marketer lain, atau pedagang bakso yang menggratiskan bakso jika ada pelanggan yang membawa pelanggan lain (Member Get Member -MGM). Namun bedanya hanya dengan MLM, MGM hanya berhenti sampai level itu saja.

Ok, kita batasi Network Marketing ini pada level berjenjang saja (MLM ataupun VM), di mana keanggotaan terbuka bagi semua orang yang akan mendapatkan manfaat dari kinerja orang yang direkrutnya (downline) dan memberikan manfaat kepada orang yang merekrutnya (upline). Banyak orang yang menganalogikan MLM seperti Amal jariyah berdakwah atau menyebarkan ilmu, dimana selalu mendapatkan pahala selama masih ada kebaikan / ilmu bermanfaat secara turun temurun.

ASPEK HUKUM DALAM ISLAM

Berbicara mengenai aspek hukum, ada baiknya untuk menyimak artikel yang ditulis oleh HM Cholil Nafis Lc MA (Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU) di website resmi Nadhlatul Ulama di http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=13946.  Di sana disebutkan bahwa pada dasarnya boleh, dengan batasan-batasan tertentu. Menarik juga membaca komentar-komentar atas artikel tersebut. Silahkan baca sendiri detailnya.

Tentu saja harus diakui bahwa hukum agama mempunyai kebenaran yang relatif karena tergantung dari mana sumber dalilnya, bagaimana konteksnya, dan yang lebih parah lagi (kadang) siapa yang meramunya dan apa kepentingan di baliknya. Kebenaran absolut hanya milik Allah. Maka dari itu, sebelum mencari tahu tentang hukum sesuatu, seharusnya seseorang memastikan niatnya apakah ingin mencari KEBENARAN atau PEMBENARAN.

Dalam hal Network Marketing, sebaiknya kita mengonfrontasikan ke hati kita, jika ada penolakan sebaiknya tidak dilanjutkan. Namun jika kita yakin bahwa akan mampu berbagi manfaat tanpa mengeksploitasi orang lain, maka lanjutkanlah. Saya jadi teringat sabda Nabi “Al itsmu ma haka fi shodrik wa karihta an yaththoli’a ‘alaihinnas.”

SISI POSITIF NETWORK MARKETING

Saya pernah mengikuti program MLM yang menawarkan produk-produk dari Amerika saat masih awal SMA dulu. MLM  dengan berbagai metode pelaksanaanya bisa menyalakan motivasi dan optimisme yang besar pada seseorang. MLM mengajarkan orang untuk bermimpi dan berusaha mewujudkannya. MLM melatih anggotanya untuk piawai berkomunikasi secara efektif. Sampai saat ini saya masih mengagumi karya David J. Schwartz  dan Dale Carnegie yang menjadi “kitab suci” kala itu.

SISI NEGATIF NETWORK MARKETING

Hampir tidak ada resep yang tanpa efek samping, apalagi kalau dikonsumsi secara berlebihan. InnalLoha la yuhibbul musrifin. Seringkali dosis mimpi yang disuntikkan ke anggota MLM berlebihan, terlalu tinggi kadarnya di atas bumi realita. Motivasi kadang terlalu memenuhi otak sehingga menyisakan sedikit ruang untuk bisa berpikir jernih. Efeknya bisa menjadi mengerikan bagi diri sendiri dan orang lain.

Bagi diri sendiri, mimpi yang terlalu melambung bisa menjelma menjadi dua kemungkinan: (1) Malas atau (2) Tak terkontrol. Mimpi melahirkan kemalasan, itulah salah satu anomali psikologi manusia. Pemimpi bisa menjadi pelamun dan pemurung, atau setidaknya dia menjadi malas melakukan hal lain selain yang ada di jalur mimpinya. Pemimpi juga bisa menjadi liar dan menabrak batas-batas kewajaran dan berpotensi untuk menghalalkan segala cara.

Efek menyedihkan bagi diri sendiri adalah ketika mendapati bahwa kenyataan  dikurangi harapan hasilnya di bawah nol alias kekecewaan. Upline seringkali mendorong downline untuk melangkah melebihi panjang jangkauan kakinya. Banyak yang harus dikorbankan untuk itu: uang, waktu, dan kejernihan pikir dan kadang harga diri.

Efek bagi orang lain yang sering saya temui adalah penolakan. Orang merasa risih dengan propaganda anggota MLM. Bahkan kadang orang menolak bertemu padahal tidak membicarakan MLM sekalipun. Oleh sebab itu, anggota MLM sering kali seperti minyak di taruh di air, hanya bisa menyatu dengan sesama anggota MLM lainnya.

PERDEBATAN SEPUTAR NETWORK MARKETING

Banyak sekali hal-hal yang memicu perdebatan antara dua kubu yang pro dan yang kontra. Seperti banyak yang menganggap MLM sebagai bisnis yang akan membuat kita kaya padahal sebenarnya pemilik perusahaan akan menjadi lebih kaya berlipat-lipat. Kenapa tidak menjadi pemilik perusahaan MLM aja alih-alih menjadi anggota MLM. Lain kali saya ulas deh… Kalau sempet tentunya… he he he.

NETWORK MARKETING BAGI SAYA

Setelah melalui perenungan dan perjalanan waktu, saya tidak akan mau menjadi anggota MLM lagi. Alasannya sangat personal, jadi tidak bisa digeneralisir ke orang lain. Tidak perduli dengan potensi bisnisnya yang begitu besar apalagi potensi kekecewaan yang tak kalah besar. Saya bukan takut dengan resiko dikecewakan oleh MLM, tapi takut akan mengecewakan orang lain. Sama halnya saat kegagalan MLM menimpa saya sebagai konsekuensi logis dari konteks zaman kala itu, saya sama sekali tidak meratapi diri, tapi meratapi orang-orang yang telah tergadaikan hidupnya karena ajakan saya.

Tujuan saya berbisnis adalah keuntungan maksimal, tapi tujuan hidup bukan itu. Jika dalam proses berbisnis menghianati tujuan hidup, maka harus segera dihentikan.

iqbal
# yang menulis MLM juga terlalu berlebihan. He he he.

.

under: Uncategorized

Don’t blame your eye oh one that loves me

Posted by: masiqbal | November 15, 2008 | No Comment |

Ma Loom….

When I listen the song, I feel encouraged to run very fast to the never ending destination and fly to the highest sky level. Not because of the lyric, but just because of its rhythm. Curious? Try to visit http://www.youtube.com/watch?v=YMsJJFvTRj0.  Yeah, this is one of my favourite songs.  I listened this song for first time (about 2001) at Kalibata, in a politican’s offical house, when preparing a painting exhibition for Gus Mus.

Here is it…

نوال الزغبي - مالوم

مالوم مالوم والله مالوم

مالوم عينك يل تهواني
ما تفارقني لو ثواني

تحمل همي و تشغل بالك
تتمناني دوم قبالي
مالوم عينك يل تهواني
ما تفارقني لو ثواني

طمن بالك هدي أعصابك
ما دام قلبي يهواك
لو بحضورك أو بغيابك
ما تشوف عيني سواك
ريح قلبي من عذابك
من هالنار الجواك
مالوم عينك يل تهواني
مالوم لا لا مالوم

و انت بقربي أنسى وجودي
و ما يبقالي عنوان
الا قلبك هو حدودي
دنيا و كلا ألوان
تروي بحبك كل ورودي
و تبقى عليي سهران
مالوم عينك يل تهواني

مالوم لا لا مالوم

Nawal al-Zoghbi - Don’t Blame

Don’t blame, by God, Don’t blame

Don’t blame your eye oh one that loves me
Don’t leave me although for a second
You carry my concern and worry your mind
You hope that I will remain before you
Reassure your thoughts and calm your nerves
As long as my heart loves you
If in your presence or absence
My eyes see no one except you
The wind of my heart is from your torment
From this fire inside of you
Don’t blame your eye oh one that loves me
Don’t leave although for a second

Don’t blame

When you are near me I forget my own presence
And I no longer have a title
Only your heart is by my side
A world and all the colors
You water all my roses with “I love you”
And you are watchful of me at night
Don’t blame your eye oh one that loves me
Don’t leave me although for a second

Don’t blame

under: Music
Tags: ,

Siapa yang harus disalahkan?

Posted by: masiqbal | October 3, 2008 | No Comment |

Suatu hari Nasrudin dari istrinya pulang dan mendapati rumah mereka telah dimasuki pencuri. Segala sesuatu yang berguna dibawa kabur sang pencuri.

“Ini semua salahmu.” kata istrinya, “karena kamu selalu merasa yakin bahwa pintu rumah sudah terkunci sebelum kita pergi”.

Para tetangga juga turut berkomentar: “Kamu sih tidak mengunci pintu-pintu”, ujar seorang tetangga.

“Heran. Kenapa kamu tidak membayangkan apa yang bakal terjadi?” ujar yang lain. “Kunci-kunci ternyata sudah rusak dan kamu tidak menggantinya”, kata orang ketiga.

“Sebentar,” kata Nasrudin, “tentunya, aku bukan satu-satunya orang yang bisa kalian salahkan.”

“Lalu, siapa yang harus kami salahkan kalau bukan engkau?” teriak orang-orang dengan gemas…

“Lho? Kok bukan para pencuri itu?” kata Nasrudin.

under: Uncategorized
Tags: ,

Obrolan di Patas 54

Posted by: masiqbal | September 27, 2008 | 3 Comments |

Sudah lama sekali tidak naik Bis Patas 54 Jurusan Grogol-Depok. Sejak mengalami “Post Car-Owner Syndrome” sebulan ini, public transportation menjadi satu-satunya sarana yang bisa saya manfaatkan. Sebenarnya saya adalah orang yang males berkeliaran di jalanan jakarta yang ruwetnya seperti semak belukar. Masalahnya adalah, sebagai manusia yang tidak merdeka dari keterkaitan dengan manusia lainnya, mau tidak mau sesekali harus merentas jalan untuk menunaikan kewajiban sebagai budak sosial. Read More…

under: Uncategorized
Tags: , ,

Dan, pemenangnya adalah…

Posted by: masiqbal | September 25, 2008 | 1 Comment |

Seorang pemilik toko sangat marah karena di sebelah kirinya dibuka toko yang mirip dengan tokonya, dan memasang papan pengumuman besar: “Harga Terjangkau”.

Kemudian di sebelah kanan tokonya, dibuka juga toko lain yang memasang papan pengumuman yang lebih besar: “Harga Termurah”.

Si pemilik toko panik, sampai akhirnya dia dapat ide. Ia memasang papan pengumuman paling besar di tokonya sendiri dengan tulisan “Pintu Masuk Utama”.

under: Uncategorized

Pengakuan Abdullah Gymnastiar (AA Gym)

Posted by: masiqbal | August 19, 2008 | 9 Comments |

Baru pulang dari sholat shubuh di Masjid. Dingin….

Sejak beberapa bulan lalu, di kompleks saya ada penghuni baru yaitu AA Gym. Rumahnya yang di sini dihuni oleh istri keduanya, Teh Rini. Sedangkan istri pertama tetep di Bandung. So, sekarang di Masjid ada jadwal ceramah AA Gym bulanan. Sebenarnya juga ada Rhoma Irama, tapi saya tidak pernah lihat dia ceramah, kecuali kadang-kadang khotbah jum’at. Read More…

under: Uncategorized

INDOSAT payah!

Posted by: masiqbal | August 18, 2008 | 1 Comment |

Sialankuatindosat_2

.

under: Uncategorized

Kisah temen bernama ****** dari Jawa Tengah

Posted by: masiqbal | August 16, 2008 | 2 Comments |

Seorang mahasiswa semester satu (1) yang baru saja duduk di bangku PTN ternama di Jakarta mengirimkan surat kepada kedua orang tuanya di desa nun jauh di pelosok Jawa Tengah. Begini isi suratnya:

“Bapak dan Ibu, alhamdulillah, saat ini saya sudah mulai kuliah di Jakarta. Kuliahnya dari pagi sampai siang. Teman-temanku di sini baik-baik, malah banyak juga yang berasal dari daerah. Saya juga sudah kost, biayanya agak mahal per bulan. Oh ya, Bapak dan Ibu, nilai IP saya semester satu (1) ini sudah keluar, yaitu 3,5. Doakan saya semoga kerasan tinggal di Jakarta”. Read More…

under: Uncategorized

Menggunakan “secara” secara baik dan benar

Posted by: masiqbal | July 5, 2008 | 1 Comment |

Di televisi, seorang pria yang menganggap dirinya cantik ditanya oleh pria lain yang juga lemah gemulai, “Kok dari tadi senyum terus sih?”, kemudian dijawab, “Secara gue ini artis. Secara gitu loh…”.

Kata “secara” dalam setahun ini sering sekali terdengar secara aneh. Tak jarang kita jumpai para artis penghias (atau kadang perusak) layar kaca hingga ABG di halte bus kota mengulang-ulang “secara” untuk mengawali potongan-potongan kalimatnya. Read More…

under: Uncategorized

« Newer Posts - Older Posts »

Categories