Pada zaman dahulu kala, ada seseorang tua yang sangat miskin.
Terpuruk menatapi kemiskinannya, ketika berjalan di tengah hutan ia
menemukan seekor kucing berbulu emas yang sangat indah. Ia segera
membawanya pulang mengharapkan peruntungan segera datang baginya.
Dia ingin memberi nama yang spesial bagi kucing tersebut agar
peruntungan segera datang baginya. Ia pun meminta nasehat kepada
kepala-kepala suku setempat.
Dia berkata, “Saya ingin memberi nama kucing ini Kucing Harimau, bagaimana menurut anda?”
Seorang kepala suku berkata, “Ah, keberanian harimau kalah dengan
keberanian seekor naga, mengapa tidak kau namai saja Kucing Naga?”
Seorang kepala suku kedua berkata, ” Tidak diragukan lagi, naga lebih
gagah dibandingkan harimau, namun naga membutuhkan awan yang mengambang
untuk membumbung tinggi di langit, bukankan awan lebih mulia, beri nama
saja Kucing Awan”.
Kepala suku ketiga berkata, “Benar sekali awan dapat menutupi langit,
tapi awan akan segera hilang begitu angin bertiup. Angin lebih kuat
dari awan. Namai saja kucingmu Kucing Angin.”
Kepala suku keempat berkata, “Ah, seberapa kuat angin sekalipun tidak
bisa menembus tembok. Beri nama saja kucingmu Kucing Tembok.”
Kepala suku kelima segera berkata, “Seberapa kokoh tembok sekalipun,
seekor tikus bisa membuat lubang di tembok. Bagaimana mungkin tembok
bisa mengalahkan tikus. Nasehat saya, beri nama saja kucingmu itu
Kucing Tikus”
Orang tua itu semakin bingung dan akhirnya berkata, “Ah dodol kalian
semua… sudahlah aku kasih nama kucing saja, kok kucing malah jadi
tikus?”
